Minggu, Desember 14, 2008

Daya Saing Industri : Catatan Pinggir(an) Bagian 2

Artikel lanjutan dari posting sebelumnya . . .

Telaahan daya saing berkaitan dengan beragam aspek seperti statis – dinamis, satu dimensi – multidimensi, stochastic – deterministik, dan sebagainya. Tentu saja saya tidak akan membahas hal tersebut satu persatu. Untuk diskusi luas dan mendalam tentang ini, lihat misalnya tulisan Siggel (2003) dan literatur yang khusus menelaah isu-isu tersebut.
Kajian daya saing pada tingkat industri berkembang pada dasarnya dalam dua perspektif arus utama (mainstreams). Pertama, yang memandang agregasi perusahaan dalam suatu “sektor” industri atau aktivitas ekonomi tertentu (sebagaimana telah dikenal luas saat ini).[1] Pandangan kedua, meletakkan industri dengan tekanan sebagai sehimpunan perusahaan dan organisasi dalam konteks rangkaian mata rantai nilai tambah.
Dalam perspektif pertama, daya saing industri merupakan daya saing rata-rata dari agregasi perusahaan dalam sektor industri tertentu. Sebagian besar ukuran daya saing pada tingkat perusahaan (profitabilitas, biaya, produktivitas) dapat dianalisis pada tingkat industri. Pandangan “sektoral” demikian juga merupakan pendekatan “klasik” yang umumnya dipahami dalam menelaah sektor-sektor ekonomi. Sementara itu dalam perspektif kedua, daya saing lebih dilihat dalam konteks rantai nilai tambah yang umumnya terjadi “lintas sektor.”
Berbagai cara perbandingan sektoral pada tingkat nasional ataupun internasional berkembang dengan baik dan memudahkan misalnya dalam melihat “posisi” relatif suatu sektor di suatu daerah (negara) terhadap sektor serupa di daerah (negara) lain. Walaupun begitu, dalam konteks peningkatan daya saing, upaya sektoral saja dinilai banyak mempunyai kelemahan. Di antara kritik pada perspektif ini adalah pandangan sektoral yang “membawa kepada pendekatan sektoral yang terlampau terkotak-kotak seolah dengan sekat pemisah satu dengan lainnya,” yang antara lain berimplikasi kepada kebijakan dan praktik pembangunan ekonomi seperti umumnya dinilai sejauh ini.[2]
Untuk perbandingan “langsung” seperti perbandingan sektoral antar daerah/negara, tidaklah mudah dilakukan dalam konteks pendekatan rantai nilai (klaster industri). Mengingat pendekatan klaster industri[3] pada dasarnya bersifat unik atau case specific,[4] maka memang klaster industri “X” di suatu daerah atau negara tak selalu persis serupa dengan klaster industri “X” di daerah atau negara lain.
Harus diakui, untuk upaya “perbandingan,” telaahan kuantitatif atas klaster industri tertentu memang masih menimbulkan persoalan mengingat klaster tidak mengikuti batas-batas sektoral (dalam pengertian konvensional). Walaupun begitu, perkembangan iptek dan industri mendorong penyesuaian-penyesuaian pengklasifikasian di berbagai negara, baik dalam revisi ISIC (International Standard of Industrial Classification) maupun pengelompokan spesifik di masing-masing negara. NAICS (North American Industrial Classification) misalnya, merupakan revisi paling akhir hingga saat ini yang digunakan di Amerika Serikat, dan juga untuk Kanada dan Meksiko. Sedangkan NACE (Nomenclature of economic activities in the European Union) merupakan nomenklatur aktivitas ekonomi bagi Uni Eropa.[5] Sementara itu, KBLI (Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia) merupakan penyesuaian dari KLUI (Klasifikasi Lapangan Usaha Indonesia) atas revisi ketiga ISIC untuk Indonesia yang dikembangkan oleh Badan Pusat Statistik/BPS. Dengan acuan ini, sebenarnya perbandingan klaster industri pun dapat dilakukan, setidaknya secara konsep, seperti halnya dalam perbandingan sektoral yang telah lama dilakukan. Keduanya akan saling melengkapi dalam upaya pemahaman secara lebih baik tentang industri (aktivitas ekonomi).
Sebagai contoh dalam melihat perbandingan kinerja industri adalah yang dilakukan misalnya oleh UNIDO (2002), melalui publikasinya Industrial Development Report 2002/2003. Laporan tersebut antara lain mengungkapkan perbandingan kinerja sektor manufaktur dengan menggunakan konsep CIP (Competitive Industrial Performance Index). Silahkan gali dan pelajari contoh-contoh relevan.

Semoga bermanfaat.
Salam.

Catatan :
[1] Berdasarkan kode ISIC sesuai dengan digit dalam masing-masing kelompok industri.
[2] Mungkin ini terkait dengan “kekaburan” pemahaman tentang sektor ekonomi, sektor pembangunan, dan sektor “penganggaran pembangunan” serta bagaimana keterkaitannya dengan “bidang tugas dan fungsi” organisasinya di antara pembuat kebijakan sendiri dalam praktik pembangunan.
[3] Akan dijelaskan dalam bab-bab berikut.
[4] Ini antara lain karena berkaitan dengan konteks potensi daya saing yang dimiliki atau hendak dikembangkan dalam prakarsa penguatan klaster industri di suatu daerah atau negara.
[5] Lihat misalnya http://www.econ.ucl.ac.be/ires/Base_de_donnees/nomenclatures/nace/NACE4_93_ENGL.html

1 comments:

Tatang Taufik 17 Januari 2009 08.58  

Diskusi terkait dapat dilihat pula di blog Klaster Industri dan Tatang Taufik.
Salam.

ARTIKEL TERAKHIR

KOMENTAR TERAKHIR

Creative Commons License
Blog by Tatang A Taufik is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 United States License.
Based on a work at sistem-inovasi.blogspot.com.
Permissions beyond the scope of this license may be available at http://tatang-taufik.blogspot.com/.

  © Blogger template The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP